Galogandang, Tigo Koto, Rambatan, Tanah Datar

(Dialiahkan dari Galogandang)

1. Gambaran Umum Jorong Galogandang

Galogandang
Pamandangan di salah satu suduik wilayah jorong Galogandang
Nagara Indonesia
ProvinsiSumatera Barat
KabupatenTanah Datar
KecamatanRambatan
NagariTigo Koto
Lawehsekitar 350 hektare

Galogandang adalah salah satu jorong yang terletak di nagari Tigo Koto, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia.

1.1 Sejarah Jorong Galogandang  

Masyarakat Galogandang menganggap bahwa nenek moyang mereka berasal dari daerah pusat perkembangan adat Minangkabau yaitu Pariangan. Bahkan, mereka merasa bagian dari daerah Pariangan. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa Jorong Galogandang dan Pariangan menganut laras yang sama yaitu Laras Nan Panjang. Laras atau Lareh (yang disebut dalam bahasa Minang) di Minangkabau digunakan untuk menentukan sistem adat dan pemerintahan. Ada tiga kelarasan yang dipakai oleh masyarakat Minangkabau, yaitu Koto Piliang, Bodi Caniago dan Laras Nan Panjang. Daerah Laras nan Panjang adalah seiliran batang Bangkaweh yang dimulai dari daerah Guguak dikaki gunung Marapi Utara sampai dengan Bukit Tambasi Selatan yang meliputi Guguak, Pariangan, Sialahan, Batu Basa, Galogandang, Turawan dan Balimbiang. Kelarasan Nan Panjang adalah Kelarasan tertua. Oleh karena itu mereka menjadi daerah istimewa yang ditandai dengan masyarakat yang ada di daerah ini bisa memakai adat atau tata cara yang di anut oleh laras Koto Piliang dan Bodi Caniago. Jorong Galogandang dahulunya ditemukan oleh sekelompok masyarakat dari Pariangan sewaktu mereka memperluas  wilayahnya. Tempat pertama yang didatangi di daerah Galogandang adalah daerah disebelah barat Galogandang yang sekarang merupakan  daerah  persawahan, dan berbatasan langsung dengan nagari Batu Basa.  Masyarakat dari Pariangan tersebut hidup dan berkembang sampai jumlahnya  banyak sehingga lama kelamaan tempatnya tidak cukup lagi, kemudian beberapa orang dari kelompok tersebut pergi mencari tempat pemukiman yang baru. Mereka berpencar-pencar membentuk kelompok sendiri sehingga pengelompokan ini membentuk Nagari tigo (tiga) koto.

Daerah III Koto itu dalam perkembangannya merupakan sebuah nagari yang terdiri dari tigo koto (perkampungan) yakni Padang Luar, Turawan dan Galogandang. Penamaan dari ketiga daerah tersebut memiliki cerita tersendiri. Disaat terbentuknya Tiga Koto, timbul permasalahan tentang apa nama dari setiap kelompok kemudian dibawa ke dalam rapat kepala suku/penghulu pucuk untuk diadakan permusyawaratan bersama anak nagari. Pada saat munsyawarah berlangsung dimeriahkan oleh atraksi kesenian dengan mengirim perwakilan dari masing-masing daerah. Pada saat acara berlangsung semua masyarakat ketakutan dan berlari meninggalkan arena keramaian terjadi karena ada seekor kerbau yang lepas dari tangan pembantainya, dia menyeruduk kesana kemari sehingga membuat cemas semua masyarakat. Kerbau diusir beramai-ramai dengan berbagai macam cara sehingga lama kelamaan kerbau kepayahan.  

Pada suatu tempat, seorang pemimpin rombongan menyerukan “hentakkan padang kalua” (hentakkan pedang keluar), baru kerbau tersebut bisa dibunuh. Kemudian kerbau tersebut dikuliti, diambil dagingnya dan dimasak ditempat permusyawaratan. Mengingat banyak masyarakat yang hadir, pimpinan menyuruh kumpulkan seluruh daging kerbau yang ada dan menyerukan “atuah tulang rawan” terjadi peristiwa kerbau mengamuk memberikan inspirasi untuk mengabadikan peristiwa tersebut. Tempat diadakan acara berdendang anak nagari yang diiringi dengan bunyi gendang yang “digalo” (ditabuh) diberi nama Galogandang. Sementara itu tempat kejar mengejar kerbau dengan menghentakkan “padang kalua” dinamakan  dengan Padang Lua (Padang Luar) yang berarti pedang yang dikeluarkan dari sarungnya. Tempat kerbau dikuliti dan diambil dagingnya serta “diatuah tulang rawannya” (mengumpulkan  tulang rawan dengan cara mengikatnya pada seutas tali atau lidi) daerah tersebut dinamakan Turawan. Daerah Galogandang pertama kali ditempati oleh sebuah rombongan yang dipimpin oleh Datuak Kali Bandaro bersama tiga orang Datuak lainnya yaitu Datuak Tanmalik dan Datuak Bijo Kayo. Mereka bersama membangun daerah ini kemudian dianggap sebagai “inyiak” (orang tua nagari) yang dihormati oleh masyarakat sampai sekarang. Masyarakat Galogandang merupakan keturunan langsung  dari keempat orang datuak tersebut. Gelar tersebut masih dipakai secara turun temurun sampai sekarang.


1.2 Kondisi Geografis Jorong Galogandang

Jorong Galogandang secara administratif merupakan bagian dari Nagari III Koto, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Sebelumnya, Galogandang merupakan sebuah desa, namun sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1979 tentang sistem pemerintahan Desa di Propinsi Sumatera Barat yaitu desa kembali ke Nagari maka Galogandang kembali menjadi sebuah Jorong dari Nagari III Koto. Galogandang terdiri dari empat Dusun, yaitu Dusun Guguak Raya, Dusun Tanah Liek, Dusun Mesjid Tuo, dan Dusun Parak Laweh.  Jorong Galogandang terletak di bagian Barat Daya dari Kecamatan Rambatan, berbatasan langsung dengan kecamatan Pariangan dan kecamatan Batipuah. Sebelah barat berbatasan dengan Pariangan, sebelah utara berbatasan dengan Nagari Padang Magek, sebelah selatan berbatasan dengan Padang Luar dan sebelah timur berbatasan dengan Jorong Turawan. Jorong Galogandang berjarak 5 kilometer dari pusat kecamatan dengan jarak tempuh waktu sekitar 15 menit. Jarak dengan Ibu Kota Kabupaten Tanah Datar yaitu di Batusangkar berjarak 10 kilometer yang bisa ditempuh dengan waktu lebih kurang 30 menit. Hubungan dengan pusat pemerintahan bisa dikatakan lancar dengan sarana jalan yang sudah diaspal. Jorong Galogandang memiliki tiga ruas jalan yang menghubungkannya dengan daerah sekitar, yaitu dari Padang Magek, Turawan dan Batu Basa. Lancarnya hubungan ke Jorong Galogandang terutama dirasakan sejak tahun 1976. Daerah galogandang sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan lembah sehingga jalan menuju daerah tersebut melewati daerah perbukitan dan lembah seperti jalan dari Padang Magek yang memiliki belokan dan tikungan yang tajam, melewati sungai (Batang) Bangkaweh dengan penurunan dan pendakian yang tinggi sehingga harus dilewati dengan hati-hati.


1.3 Kondisi Demografi Jorong Galogandang 

Luas wilayah Jorong Galogandang 6,23 Km2 sehingga memiliki persentase 21.49 % dari keseluruhan wilayah Nagari III Koto, dengan jumlah penduduk  keseluruhan sebanyak 1.890  jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 976 jiwa dan perempuan 914 jiwa. Sebagian besar penduduk Galogandang bermata pencaharian petani, pedagang dan merantau. Selain itu, masyarakat Galogandang  juga  dikenal  dengan daerah pembuat kerajinan tanah liat (Gerabah) yang  memproduksi  peralatan  memasak seperti periuk, kuali dan berbagai  macam bentuk lainnya yang  terbuat  dari tanah.


1.4 Tradisi Pulang Basamo

Masyarakat Minangkabau pada umumnya memiliki tradisi yang dikenal dengan merantau.  Merantau pada masyarakat Minangkabau banyak dilakukan oleh kaum laki-laki, dimana pepatah Minangkabau mengatakan “Karantau madang dihulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu dirumah paguno balun“, maksud dari pepatah ini adalah anak laki-laki di Minangkabau lebih baik pergi merantau meninggalkan kampung halaman karena merasa belum diperlukan di rumahnya. Selain itu ada faktor lain yang mendorong suatu masyarakat merantau yaitu faktor ekonomi yang cenderung semakin banyak pengeluaran yang lebih dari sekedar untuk makan sehari-hari. Tradisi merantau ini juga dilakukan oleh masyarakat Galogandang. Sebagaimana diketahui menurut salah satu informan penulis bahwa :

“Disiko masyarakatnyo banyak yang marantau, dari sabanyak 1.800 jiwa panduduak asli, ado sakitar 25% yang tingga dikampuang salabiahnyo 75%  pai ka nagari urang. Umumnyo marantau ka pulau Jawa, yang biasonyo banyak di Ibu Kota Jakarta. Sahinggo masyarakat di kampuang tingga nan tuo-tuo se lai, yang mudo lah pai ka nagari urang alasannyo pai marantau untuak marubah nasib, nyo manganggap kalau dirantau banyak mandapek rasaki babeda jo dikampuang indak tau apo yang ka dikarajoan. Misalnyo kalau nan padusi nan alah basuami tu suaminyo marantau dan otomatis nyo dibaok dek suaminyo. Jadi itulah  alasannyo kiniko banyak urang di Galogandang ko marantau dari pado dikampuang. Tapi disiko urang padusi yang alah tuo-tuo yang masih tingga di kampuang karajonyo mambuek pariuk dari tanah liek sabagai mato pencaharian dari daerah Galogandang ko”. “Disini masyarakatnya banyak yang merantau dari sebanyak 1.800 jiwa yang merupakan penduduk asli ada sekitar persentase 25%  yang tinggal dikampung selebihnya 75% pergi merantau pergi ke negeri orang, umumnya masyarakat merantau ke Pulau Jawa yang biasanya  banyak di Ibu Kota Jakarta. Sehingga masyarakat tinggal di kampung itu yang tua dan yang mudah sudah pergi ke negeri orang dengan alasan pergi merantau  itu bisa merubah nasib dengan menganggap kalau dirantau banyak mendapatkan rezeki, berbeda dengan dikampung tidak tahu apa yang akan dikerjakan. Misalnya kalau yang  perempuan  sudah bersuami terus suaminya merantau dan otomatis anak perempuan tersebut akan dibawa  merantau. Tetapi disini orang perempuan yang sudah tua-tua yang masih tinggal dikampung kerjanya  membuat gerabah dari tanah liat sebagai  mata pencaharian dari daerah Galogandang”. [1]


Lebaran merupakan momen  bagi perantau Galogandang untuk pulang ke kampong halaman. Masyarakat Galogandang menyebutnya pulang basomo (pulang bersama).  Perantau Galogandang memiliki suatu ikatan bersama di daerah rantau dengan nama IKAPGA (Ikatan Perantau Galogandang). IKAPGA ini memiliki persatuan yang bersifat persaudaran yang kuat di daerah rantau. Ikatan ini memiliki struktur organisasi yang jelas yang berguna untuk mengkoordinasi masyarakat yang ada di rantau.  Lebaran  tahun 2016 kemarin para perantau  pulang basamo (pulang bersama).  Ada sekitar 5000 lebih perantau yang pulang, sebagian menggunakan umum seperti pesawat, bus, dll. Pulang basamo ini biasanya diadakan satu kali dalam empat tahun. Kegiatan pulang basamo (pulang bersama) tidak hanya momen berkumpul dengan keluarga tetapi juga untuk mengadakan berbagai macam kegiatan di nagari, yang berguna untuk hiburan pada saat pulang bersama. Partisipasi perantau yang pulang basamo (pulang bersama) kemarin yaitu memberikan  bantuan dana untuk pembangunan masjid lebih kurang Rp 150 juta. Selain itu juga ada dana bantuan untuk anak yatim, risma (remaja masjid), dan lembaga pendidikan yang ada di Galogandang. Biasanya kegiatan hiburan yang dilakukan adalah lomba membuat gerabah dan pacu jawi (garapan sapi). Berikut ini merupakan video atau cuplikan ceremonial acara pulang basamo Galogandang Tahun 2016 dapat dilihat di chanel youtube: https://www.youtube.com/watch?v=UYTOrQ4BicQ&t=631s .

  1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/63197/Chapter%20II.pdf?sequence=3&isAllowed=y[pranala nonaktif permanen]